Diabetes Mellitus? Bisa Dicegah Kok!


         
         Diabetes mellitus atau yang lebih dikenal dengan kencing manis merupakan penyakit kronik dengan peningkatan kadar gula dalam darah. Peningkatan kadar gula dalam darah (hiperglikemia) disebabkan oleh ketidakmampuan pankreas untuk memproduksi hormon insulin atau berkurangnya efektivitas hormon insulin (resistensi insulin). Hormon insulin adalah hormon yang bertugas memasukkan gula darah ke dalam sel. Apabila hormon ini tidak dihasilkan dengan cukup atau tidak bekerja sebagaimana mestinya, maka kadar gula dalam darah akan meningkat. (ADA, 2010).

Sampai saat ini, diabetes mellitus masih menjadi permasalahan kesehatan di dunia. Secara global, sebanyak 442 juta orang menderita diabetes mellitus (WHO, 2019). Di Indonesia jumlah penderita diabetes mellitus sebanyak 8,4 juta pada tahun 2000 dan diperkirakan akan meningkat menjadi 21,3 juta pada tahun 2030. (Kemenkes RI, 2019)

Secara umum, diabetes mellitus terdiri dari 2 tipe, yaitu diabetes mellitus tipe 1 dan diabetes mellitus tipe 2. Diabetes mellitus tipe 1 disebabkan oleh faktor genetik dan autoimun sedangkan diabetes tipe 2 diakibatkan oleh faktor resiko seperti pola hidup yang buruk, obesitas, memiliki keluarga yang menderita diabetes mellitus tipe 2, dan merokok. (ADA, 2015)

Berbagai gejala klinis yang berbeda-beda dapat ditemukan pada pasien penderita diabetes mellitus . Namun, gejala klinis utama yang umunya muncul adalah poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. (PERKENI, 2015) Poliuria adalah keadaan dimana volume urin dalam 24 jam meningkat melebihi batas normal. Gejala ini lebih sering terjadi pada malam hari dan urin yang dikeluarkan mengandung gula (Nugroho, 2012). Polidipsia adalah peningkatan rasa haus yang diakibatkan oleh pengeluaran urin yang berlebihan sehingga kompensasi tubuh dengan meningkatkan asupan cairan (Kahanovitz, 2017). Sedangkan polifagia adalah peningkatan nafsu makan oleh karena kadar gula darah tidak dapat digunakan sebagai sumber energi akibat kadar insulin yang rendah atau kerja insulin yang berkurang (Nugroho, 2012). Penurunan berat badan juga umum terjadi pada pasien diabetes mellitus akibat pembakaran cadangan lemak sebagai kompensasi dari kekurangan energi akibat diabetes mellitus (Subekti, 2009). Terdapat beberapa gejala tambahan yang mungkin timbul pada pasien diabetes melitus adalah lemah badan, kesemutan, gatal, mudah mengantuk, luka sulit sembuh, mata kabur, dan impotensi pada pria, serta gatal pada kemaluan wanita (PERKENI, 2015).

Diabetes mellitus dapat ditegakkan apabila terdapat gejala utama dan atau beberapa gejala tambahan, memiliki faktor risiko penyakit diabetes mellitus, serta hasil pemeriksaan kadar gula darah sewaktu ≥200 mg/dl pada sampel plasma vena dan darah kapiler atau kadar gula darah puasa ≥126 mg/dl pada sampel plasma vena dan ≥100mg/dl pada sampel darah kapiler. (Kemenkes RI, 2019)

          Pencegahan diabetes mellitus dapat dilakukan dengan cara yang pertama menjaga berat badan tetap normal. Hal ini, dapat diukur dengan rumus IMT = BB(kg)/TB(m2) dan IMT harus berada dalam range 18,5-25,0 . Kedua, melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari dengan intensitas sedang. Ketiga, makan makanan sehat dengan 3-5 porsi buah dalam sehari dan mengurangi konsumsi garam, gula dan lemak jenuh. Keempat, hindari penggunaan tembakau (merokok, tembakau kunyah). Kelima, hindari penggunaan alkohol. Keenam, kelola stress. Ketujuh, melakukan pengecekan kadar gula darah dan HbA1C secara teratur. Tindakan pencegahan tersebut ditujukan untuk diabetes mellitus tipe 2. Sedangkan diabetes mellitus tipe 1 sampai saat ini, belum dapat dicegah dengan ilmu pengetahuan yang tersedia (WHO, 2012)




DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association. 2010. Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus. Diabetes Care.
WHO. 2019. Classification Of Diabetes Mellitus 2019.
Kemenkes RI. 2019. Infodatin hari diabetes sedunia 2018. Jakarta Selatan.
American Diabetes Association. 2015. Classification and Diagnosis of Diabetes. Diabetes Care.
Perkeni. 2015. Konsensus Pengelolaan Dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Di Indonesia 2015. Indonesia. PB PERKENI
Nugroho, Sigit. 2012. Pencegahan dan Pengendalian Diabetes Mellitus melalui Olahraga. Universitas Negeri Yogyakarta. Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi
Kahanovitz, Lindy. Patrick, M Sluss. Steven J, Russell. 2017. Type 1 Diabetes – A Clinical Perspective. Mar 16(1): 37-40
Subekti, Imam. 2009. Patofisiologi Gejala dan Tanda Diabetes Mellitus. Jakarta. FK UI
Kemenkes RI. 2019. Bagaimana Mengetahui Penyakit Diabetes Mellitus Secara Dini?. Jakarta.
WHO. 2012. Diabetes Fact Sheet. Departement of Sustainable Development and Healty Enviorment.



21601101011/St Khalidiyah

Post a Comment

0 Comments