Pada tahun 2012, World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa dari 56,5 juta
orang di seluruh dunia, sekitar 31% meninggal akibat penyakit jantung dan
pembuluh darah. Dari seluruh kematian akibat penyakit kardiovaskular, sebanyak
7,4 juta disebabkan oleh penyakit jantung koroner dan sebanyak 6,7 juta
disebabkan oleh penyakit stroke. Sedangkan di Indonesia, stroke merupakan
penyakit mematikan nomor tiga setelah jantung dan kanker.
Stroke merupakan hilangnya fungsi otak
akibat adanya gangguan aliran darah yang menyebabkan penurunan aliran oksigen
ke otak. Kondisi tersebut menimbulkan gejala-gejala seperti kelumpuhan wajah
atau anggota badan, bicara tidak lancar, perubahan kesadaran, gangguan
pengelihatan dan gangguan lainnya.
Faktor risiko utama penyebab terjadinya
stroke yaitu faktor perilaku berupa kebiasaan merokok, kurangnya konsumsi buah
dan sayur, kurangnya aktivitas fisik dan konsumsi minuman beralkohol. Faktor
perilaku tersebut dapat menjadi penyebab faktor risiko penyebab stroke seperti
hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, obesitas dan lain-lain.
Stroke dapat disebabkan oleh peningkatan
kadar kolesterol total, yaitu High
Density Lipoprotein (HDL), Low
Density Lipoprotein (LDL), dan
trigliserida yang menyebabkan timbulnya plak kolesterol pada dinding arteri
(Aterosklerosis). Aterosklerosis menyebabkan terhalangnya aliran darah menuju
otak yang berperan pada terjadinya stroke iskemik.
Proses penggorengan pada makanan dapat
merubah kualitas dan kandungan nutrisi pada makanan. Makanan yang digoreng
lebih banyak mengandung lemak, kalori dan garam. Selain itu, makanan yang
digoreng pada minyak yang berkali-kali dipakai lebih banyak mengandung lemak
jenuh dan lemak trans.
Lemak jenuh atau Saturated Fatty Acid (SFA) memiliki efek dominan meningkatkan kadar
kolesterol ‘jahat’, yaitu kolesterol LDL. Penggunaan lemak jenuh berlebihan
dapat memicu produksi LDL dalam jumlah besar oleh hati yang berperan dalam
penyakit jantung dan pembuluh darah. Makananan yang mengandung lemak jenuh
umumnya berasal dari lemak hewani seperti daging, keju dan krim susu.
Selain lemak jenuh, jenis lemak yang
berperan pada stroke adalah lemak trans
atau Trans Unsaturated Fatty Acid
(TUFA). Lemak trans memiliki efek
yang lebih besar dari lemak jenuh. Selain meningkatkan kadar kolesterol LDL,
lemak trans juga menurunkan kadar lemak sehat yaitu kolesterol HDL. Tingginya
kadar kolesterol total disertai dengan penurunan kolesterol HDL berhubungan
dengan terjadinya aterosklerosis yang dapat menyebabkan stroke.
Proses penggorengan dapat menyebabkan
perubahan asam lemak tak jenuh menjadi bentuk trans sehingga menyebabkan tingginya kadar kolesterol. Makanan
dengan kandungan lemak trans yang
tinggi terdapat pada makanan gorengan seperti ayam goren tepung, telur goreng
dan tempe mendoan serta produk ruminansia seperti daging rawon, sop buntut dan beef burger keju.
Oleh karena itu, penyakit stroke dapat
dicegah dengan mengurangi konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh dan
lemak trans seperti gorengan dan makanan cepat saji. Penggunaan minyak dapat
diganti dengan minyak yang mengandung lemak tak jenuh seperti minyak zaitun,
minyak kedelai dan minyak kacang tanah. Selain itu, makanan yang dapat membantu
keseimbangan kadar kolesterol dalam darah antara lain dengan konsumsi
kacang-kacangan seperti almond, buah-buahan yang kaya kandungan pektin serta
konsumsi produk olahan kedelai seperti tempe, tahu dan susu kedelai.
Pencegahan stroke juga dapat dilakukan
dengan meningkatkan gaya hidup sehat, antara lain dengan melakukan cek
kesehatan secara berkala untuk mengidentifikasi faktor risiko seperti
pemeriksaan tekanan darah, kolesterol, gula darah dan berat badan, serta
meningkatkan aktivitas fisik dengan olahraga teratur. Olahraga teratur dapat
mengendalikan berat badan sehingga dapat mengurangi risiko terjadinya stroke.
Daftar Pustaka
-Aini,
et al. 2016. Perbedaan Kadar
Kolesterol Total antar Penderita Stroke Iskemik dan Stroke Hemoragik. Biomedika
8(2):1-5
-Amila,
et al. 2018. Pencegahan Stroke
Berulang Melalui Pemberdayaan Keluarga dan Modifikasi Gaya Hidup. ABDIMAS
22(2):143-149
-Sartika,
Ratu A D. 2008. Pengaruh Asam Lemak Jenuh, Tidak jenuh dan Asam Lemak Trans
terhadap Kesehatan. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional 2(4):154-160
-Tuminah,
S. 2009. Efek Asam Lemak Jenuh dan Asam Lemak Tak Jenuh “Trans” Terhadap
Kesehatan. Media Penelit dan Pengembang Kesehatan
Afifah
Sakinah/21601101025

0 Comments