Pada awal tahun 2020 ini yang diharapkan akan menjadi
tahun yang cukup indah seperti angka tahun tersebut, telah terjadi pandemi
infeksi Novel Corona Virus yang kini dikenal sebagai COVID-19. Pada 30
Januari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan bahwa wabah
Novel Corona Virus adalah keadaan darurat kesehatan masyarakat yang perlu
menjadi perhatian internasional. Per-tanggal 31 Maret 2020 total kasus pandemic
COVID-19 diseluruh dunia adalah 750.890 kasus yang telah dilaporkan dan 36.405
kematian di hampir seluruh negara di dunia. Di Indonesia sendiri telah
dikonfirmasi terdapat 1528 kasus yang telah dikonfirmasi dengan angka kematian
sebanya 136 jiwa yang dilaporkan meninggal terkait dengan COVID-19.
Seiring dengan semakin meeyebarnya wabah ini
masyarakat telah dihimbau untuk mengurangi kegiatan travelling dan tinggal di
rumah sebagai cara yang paling dasar namun penting untuk membatasi penyebaran
dan mencegah masyrakat agar tidak terpapar virus ini. Sayangnya, larangan
perjalanan dan arahan yang diamanatkan untuk tidak berpartisipasi dalam
kegiatan di luar ruangan, termasuk aktivitas fisik dan olahraga teratur, pasti
akan mengganggu kegiatan rutin sehari-hari puluhan juta orang.
Dengan adanya himbauan untuk mengurangi aktivitas di
luar rumah dan tetap tinggal di rumah untuk menghindari penularan virus dari
manusia ke manusia, dimungkinkan pembatasan kegiatan ini juga akan memiliki
konsekuensi negatif yang tidak diinginkan seperti berkurangnya aktivitas fisik.
Ada kemungkinan bahwa tinggal di rumah dalam jangka waktu yang lama dapat
menyebabkan peningkatan sedentary lifestyle, seperti menghabiskan banyak
waktu untuk duduk; berbaring; atau berbaring dalam jangka waktu yang lama untuk
kegiatan bermain game, menonton televisi, atau menggunakan perangkat seluler.
Dengan kegiatan seperti yanag telah disebutkan sebelumnya maka aktivitas fisik
regular akan berkurang (karenanya pengeluaran energi lebih rendah. Oleh karena
itu, melanjutkan aktivitas fisik di rumah agar tetap sehat dan mempertahankan
fungsi sistem kekebalan tubuh saat ini adalah hal yang sangat penting.
Sedentary lifestyle adalah pola hidup yang tidak
terlalu banyak aktifitas seperti pada umumnya. Pola hidup seperti ini
berhubungan dengan aktivitas pergerakan tubuh yang minim atau bahkan dapat
dikatakan tidak adanya/kurangnya aktivitas fisik. Aktivitas yang dilakukan
biasanya adalah aktivitas fisik pada tingkat aktivitas fisik istirahat atau
aktifitas ringan.
Kurangnya aktivitas dapat berimplikasi pada kesehatan,
pola hidup ini meningkatkan semua penyebab kematian, menggandakan risiko
penyakit kardiovaskular, diabetes, dan obesitas, dan meningkatkan risiko kanker
usus besar, tekanan darah tinggi, osteoporosis, gangguan lipid, depresi dan
kecemasan (WHO, 2002).
Di antara langkah-langkah pencegahan yang
direkomendasikan oleh WHO adalah aktivitas fisik sedang selama 30 menit setiap
hari, penghentian kebiasaan merokok, dan mengkonsumsi sumber-sumber nutrisi
yang sehat. Aktivitas fisik rinfan dan kegiatan latihan di rumah juga perlu
untuk dilakukan. Contoh-contoh latihan di rumah termasuk berjalan di dalam
rumah dan ke toko seperlunya, mengangkat dan membawa bahan makanan, menekuk
lutut secara bergantian, memanjat tangga, berdiri-ke-duduk dan duduk-ke-berdiri
menggunakan kursi dan dari lantai, kursi berjongkok, dan sit-up dan push-up.
Selain itu, latihan yoga juga dapat dipertimbangkan karena tidak memerlukan
peralatan, ruang yang sedikit, dan dapat dipraktikkan kapan saja. Penggunaan
video olahraga yang berfokus pada mendorong dan memberikan aktivitas fisik
melalui internet, hanphone, dan televisi adalah cara lain yang dapat dilakukan
untuk mempertahankan fungsi fisik dan kesehatan mental selama periode kritis
ini.
Setidaknya lakukan kegiatan fisik sedang selama 30
menit secara rutin setiap hari dan / atau setidaknya 20 menit aktivitas fisik
yang berat setiap hari. Idealnya, kombinasi dari kedua intensitas aktivitas
fisik lebih disukai. Tetapi perlu diperhatikan untuk anak-anak, orang tua, dan
mereka yang sebelumnya mengalami gejala penyakit atau rentan terhadap penyakit
kardiovaskular atau paru kronis harus mencari saran dari penyedia layanan
kesehatan tentang kapan aman untuk berolahraga.
Mengingat kekhawatiran tentang meningkatnya penyebaran
COVID-19, sangat penting untuk melakukan tindakan pengendalian infeksi dan
tindakan pencegahan keselamatan. Tetap tnggal di rumah adalah langkah keamanan
mendasar yang dapat membatasi penyebaran infeksi secara luas. Tetapi tinggal di
rumah dalam waktu lama juga dapat meningkatkan perilaku yang mengarah pada
ketidakaktifan dan berkontribusi pada kecemasan dan depresi, yang nantinya
dapat mengarah pada gaya hidup yang tidak menentu dan mengakibatkan timbulya
berbagai masalah kesehatan. Mempertahankan aktivitas fisik secara teratur dan
berolahraga secara rutin di lingkungan rumah yang aman adalah strategi penting
untuk hidup sehat selama krisis corona virus ini.
Shabrina Yasyfi
Hanifati/21601101101

0 Comments