Sebagian
besar orang seiring berjalannya waktu dapat mengalami
gangguan mental berupa rasa stress dan cemas yang berlebihan. Hal ini
dikarenakan masalah dan tekanan yang mereka alami semakin bertambah ditengah
pesatnya perkembangan kehidupan manusia. Masyarakat yang hidup dikota
metropolitan sangat rentan mengalami stress dan cemas yang dapat berujung pada
depresi, alkoholisme, skizofrenia, gangguan bipolar, dan obsesif kompulsif.
Gangguan mental ini sebagian besar dialami oleh pasien dengan tingkat ekonomi
menegah kebawah. Menurut Waddell (2005) dalam penelitiannya di kanada
menyatakan bahwa pada anak berusia 7-14 tahun yang mengalami gangguan kesehatan
mental mayoritas penyebabnya adalah masalah dalam keluarga, sekolah, dan
lingkungan sekitarnya. Pada 2014, Riskesdes mencatat jumlah pasien gangguan
mental berat sekitar 1 juta dan gangguan mental ringan sekitar 19 juta. Oleh
karena itu, beban penyakit mental di Indonesia dinilai cukup tinggi.
Tingginya
prevalensi gangguan mental di dunia dan Indonesia sayangnya tidak menjadi
perhatian serius bagi banyak orang, bahkan pihak lembaga kemasyarakatan dan
pemerintah, belum bisa memberikan perhatian yang serius terhadap permasalahan
kesehatan mental. Padahal menjaga kestabilan dan ketentraman jiwa sama
pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Makna kesehatan mental saat ini
diperluas menjadi keseimbangan antara kesehatan fisik, sosial, budaya, psikis,
dan berbagai faktor internal sehingga secara fungsional hal tersebut tidak
dapat dipisahkan satu sama lain. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran serentak
dari keluarga, masyarakat, dan pemerintah untuk dapat mendapatkan pemahaman
berupa edukasi dan melakukan deteksi dini gangguan mental.
Gangguan
kesehatan mental dapat dideteksi dini melalui gangguan pada emosi, pola pikir,
dan perilaku. Selain itu, pasien gangguan mental juga dapat diketahui dari
gejala-gejala berupa waham (meyakini sesuatu yang tidak nyata), halusinasi,
sedih berkepanjangan, perubahan emosi tiba-tiba, perubahan pola tidur yang
aneh, marah berlebihan, cenderung bertindak kekerasan, dan perilaku yang tidak
wajar. Selain gejala yang terkait dengan
psikologis, penderita gangguan mental juga dapat mengalami gejala pada fisik,
misalnya sakit kepala, sakit punggung, dan sakit maag.
Jika sulit dalam mendeteksi dini
gangguan dan gejala diatas, ada beberapa solusi sederhana yang dapat kita
lakukan untuk membantu meendeteksi dan menjaga kesehatan mental kita :
1.
Mengambil
waktu untuk mengenali diri sendiri
Ditengah
arus zaman dimana tuntutan kehidupan yang banyak dan arus informasi yang dapat
diperoleh dengan mudah diberbagai media menjadikan seseorang mudah mengalami
stress. Ambillah waktu setiap hari atau setiap pekan untuk relaksasi dan
melakukan apa pun yang kita sukai. Kita juga dapat mencatat berapa lama
biasanya butuh tidur, seberapa banyak energi yang kita butuhkan untuk
masing-masing aktivitas, atau seberapa sering kita merasa lapar. Perubahan yang
signifikan dalam kebiasaan-kebiasaan ini dapat mendeteksi dini terjadinya
tekanan secara emosi atau mental.
2. Mengurangi
pengaruh dari segala jenis media
Sebisa mungkin,
batasi segala macam penggunaan teknologi, seperti HP, laptop, tablet, atau TV
dan jauhkan dari kamar atau hindari mengaktifkan alat-alat tersebut secara
berlebihan. Penggunaan alat terebut, terutama media social, dapat memicu
terjadinya stress dan menguras waktu kita pada hal yang tidak seharusnya kita
pikirkan sehingga dapat mengganggu waktu produktif dan istirahat kita.
3. Menulis
Saat mengalami
tekanan dan stress, kita sulit untuk fokus. Kadang banyak ide berseliweran di
kepala, tapi sulit sekali untuk diraih atau dijabarkan. Menulis dapat menjadi
solusi untuk memindahkan ide-ide atau pikiran itu ke dalam tulisan atau karya.
Bisa dalam bentuk daftar tugas atau to do
list, bisa juga dalam bentuk jurnal.
4. Berolahraga
Pikiran dan tubuh
kita sangat berhubungan satu sama lain. Kesehatan fisik berpengaruh terhadap
kesehatan mental demikian pula sebaliknya. Berolahraga merupakan salah satu
langkah relaksasi yang terbukti membantu mengurangi gejala depresi dan
kecemasan. Berolahraga di luar ruangan sangat bisa menjadi pilihan karena
suasana diluar memberikan suasana berbeda. Selain itu, kita mendapatkan udara
yang lebih segar. Berolahraga dengan minimal 30 menit per hari sudah cukup
untuk mengurangi rasa stress.
Dari empat langkah
diatas, gangguan mental berupa rasa cemas dan stress yang dialami dapat
berkurang hari demi hari jika dilakukan secara bertahap dan rutin. Semoga
dengan adanya artikel tentang kesehatan mental ini, dapat bermanfaat bagi
pembacanya dan semakin banyak teman dan keluarga yang terhindar dari gangguan
mental.
M.Zainul
Fikri/21601101062

0 Comments