Covid-19 Menyadarkan Tentang Pentingnya Imunisasi?




Imunisasi di Indonesia sudah ada sejak tahun 1956 dan pada tahun 1990 indonesia  telah mencapai status  Universal Child Immunization  (UCI), yang mana tahap cakupan imunisasi di suatu tingkat administrasi mencapai 80% atau lebih. Imunisasi sudah menjadi kebijakan nasional melalui imunisasi untuk pengendalian penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Pemerintah bertanggungjawab menetapkan sasaran jumlah penerima , kelompok usia serta tata cara pemberian vaksin, pelaksanaan dapat dilakukan oleh petugas layanan kesehatan mulai dari faskes primer sampai tersier, juga bisa diperoleh dari pihak swasta seperti bidan, dokter praktik swasta dan rumah sakit swasta.
Imunisasi adalah proses dimana seseorang dibuat kebal terhadap suatu penyakit menular, biasanya dengan pemberian vaksin. Vaksin merangsang sistem kekebalan tubuh sendiri untuk melindungi dari infeksi atau penyakit yang menularinya. Imunisasi adalah alat yang sangat ampuh untuk mengendalikan dan menghilangkan penyakit menular yang mengancam jiwa, imunisasi diperkirakan mampu mencegah antara 2 sampai 3 juta kematian per tahun. Imunisasi ini merupakan salah satu investasi di bidang kesehatan yang sangat menghemat biaya pengeluaran negara, imunisasi dapat dijangkau bahkan oleh wilayah yang terbilang sulit dijangkau dan rentan penyakit menular.
Tubuh manusia sebenarnya telah mempunyai sistem kekebalan sebagai mekanisme pertahanan dalam mencegah masuk dan menyebarnya agen infeksi. Mekanisme pertahanan ini terdiri dari dua kelompok fungsional, yaitu pertahanan non spesifik dan spesifik yang saling bekerja sama. Pertahanan non spesifik diantaranya adalah kulit dan membran mukosa, selsel fagosit, komplemen, lisozim, interferon, dan berbagai faktor humoral lain. Pertahanan non spesifik berperan sebagai garis pertahanan pertama. Semua pertahanan ini merupakan bawaan (innate) artinya pertahanan tersebut secara alamiah ada dan tidak adanya dipengaruhi secara instriksik oleh kontak dengan agen infeksi sebelumnya. Mekanisme pertahanan spesifik meliputi sistem produksi antibodi oleh sel B dan sistem imunitas seluler oleh sel T. Sistem pertahanan ini bersifat adaptif dan didapat, yaitu menghasilkan reaksi spesifik pada setiap agen infeksi yang dikenali karena telah terjadi pemaparan terhadap mikroba atau determinan antigenik tersebut sebelumnya. Sistem pertahanan ini sangat efektif dalam memberantas infeksi serta mengingat agen infeksi tertentu sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit di kemudian hari. Hal inilah yang menjadi dasar dari imunisasi.
Banyak penyakit yang sudah dapat dicegah dengan imunisasi. Misalnya vaksin BCG untuk mencegah penyakit tuberculosis, Toksoid Diphteri untuk mencegah penyakit difteri, vaksin pertussis untuk mencegah penyakit pertussis, toksoid tetanus untuk mencegah penyakit tetanus, vaksin hemophilus influenza untuk mencegah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh kuman haemophyllus influenza, dll. Bahkan saat ini sedang dikembangkan pembuatan vaksin untuk demam berdarah, Human immunodeficiency virus/Acquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS), dan penyakit infeksi lain.
Vaksin terbuat dari :
1.      Kuman yang telah dilemahkan/dimatikan
Contoh yang dilemahkan : Vaksin polio salk, Vaksin pertussis
Contoh yang dimatikan : Vaksin BCG, Vaksin campak
2.      Toksin atau Zat racun yang sudah dilemahkan (toksoid) seperti tetanus dan diphteri
3.      Komponen atau bagian kuman yang biasanya berupa protein khusus  seperti hepatitis B
Meskipun sudah tertera dengan jelas betapa pentingnya vaksin bagi kesehatan, masih ada oknum tertentu yang menentang pemberian vaksin untuknya dan juga anak mereka, bahkan WHO memasukkan oknum “anti-vaksin” tersebut kedaftar sepuluh ancaman terbesar kesehatan global tahun 2019, karena sejumlah penganut anti-vaksin menghindari suntikan vaksin sebagai bentuk protes terhadap perusahaan farmasi besar. Namun ada sebagian lain yang mengatakan bahwa vaksin terbat dari bahan kimia yang tidak alami, baik dilarang agama, atapun tidak aman. Hal ini membuat mereka mengambil resiko untuk tidak memberikan vaksin kepada anak mereka atau ketika mereka terkena penyakit.
Di Indonesia sendiri gerakan anti-vaksin, anti-vax atau vaccine hesitancy berhasil menjadikan Indonesia juara dalam kasus difteri. Data dari Ikatan Dokter Indonesia, khususnya dokter anak, ada 40 anak terinfeksi difteri meninggal dan lebih dari 600 pasien dirawat karena terjangkit difteri pada tahun 2017 lalu. Sama seperti Negara lain yang menolak vaksinasi, kebanyakan di Indonesia menolak vaksinasi karena ragu keamanan atau takut efek samping dari vaksinasi dan juga tidak sejalan dengan keyakinan tertentu.
Menurut data survey yang dilansir pada “The Conversation”. Penolakan vaksinasi akan menurun drastis ketika terjadi wabah, riset tersebut senada dengan studi Florian Justwan yang melihat adanya hubungan antara kedekatan baik secara geografis atau psikologis dengan wabah penyakit  dengan perilaku seseorang terkait dengan vaksinasi. Kedekatan ini mendorong orang-orang untuk bertindak lebih waspada agar tidak terinfeksi penyakit yang sedang mewabah. Jika nanti vaksin untuk COVID-19 ditemukan, diperkirakan penerimaan masyarakat terhadap vaksin baru ini akan cenderung tinggi, mengingat tingkat risiko yang lebih tinggi jika tidak divaksinasi. Meskipun, tetap saja akan ada kelompok yang akan menolak atau melakukan gerakan anti-vaksin, levelnya cenderung akan lebih rendah.

Daftar Pustaka
-WHO. 2010. Immunization, vaccine and Biologicals. https://www.who.int/topics/immunization/en/. Diakses pada tanggal 29 Maret 2020.
-Wahab, A.S., Julia, M. 2002. Sistem Imun, Imunisasi, dan Penyakit Imun, Jakarta: Widya Medika.
-Pusat Komunikasi Publik. 2011. Pertemuan Koordinasi dalam Rangka Persiapan Tahun 2012 sebagai Tahun Intensifikasi Imunisasi Rutin dan Kampanye Imunisasi Tambahan Campak dan Polio 2011 di 17 Provinsi http://www.puskeshaji.depkes.go.id/index.php/beranda/1-beritaumum-terkini/121-program-imunisasi-indonesia
-Halimatusa’diyah, I. 2020. COVID-19 tiba di Indonesia, riset: penolakan vaksinasi menurun drastic saat wabah terjadi. https://theconversation.com/covid-19-tiba-di-indonesia-riset-penolakan-vaksinasi-menurun-drastis-saat-wabah-terjadi-132018. Diakses pada tanggal 29 Maret 2020.

Hafidz Yasin Habibillah/21601101078

Post a Comment

0 Comments