Benarkah Mandi Malam Hari Menyebabkan Rematik?


Indonesia merupakan salah satu negara yang sebagian besar penduduknya masih menganut kepercayan-kepercayaan yang diturunkan dari nenek moyangnya. Kepercayaan-kepercayaan yang diturunkan berupa agama, budaya, dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari seperti pendidikan, dan kesehatan. Salah satu contoh kepercayaan yang cukup populer di  penduduk indonesia  adalah mandi  di malam hari  bisa menimbulkan penyakit rematik. Penduduk Indonesia percaya bahwa penyakit rematik disebabkan oleh terlalu seringnya mandi di malam hari           menggunakan air dingin yang dapat menimbulkan sensasi nyeri di daerah persendian. Kepercayaan mengenai penyakit rematik ini ternyata bertolak belakang dengan ilmu kesehatan.

          Menuruti ilmu kedokteran, rematik merupakan sebutan untuk penyakit-penyakit  yang menimbulkan rasa sakit akibat otot atau persendian yang mengalami peradangan dan pembengkakan (Junaedi, 2006). Peradangan dan pembengkakan sendi yang sering terjadi adalah disebabkan oleh arthritis rheumatoid, gout, dan oseteoarthritis. Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit yang sering muncul sekitar 50-60% di Indonesia  pada lanjut usia (Lansia) yang keluhan utamanya adalah nyeri sendi (Muchid dkk.,2016). Nyeri sendi biasanya muncul pada panggul, lutut, dan tulang belakang bagian bawah yang menimbulkan hambatan dalam pergerakan sehingga aktivitas sehari-sehari akan menjadi terbatas (Arissa, 2013). Keterbatasan gerakan dalam periode waktu yang lama dapat menghentikan secara permanen fungsi sendi (Hopman-Rock et al., 2007). Penyebab terjadinya OA adalah adanya penyakit tulang bawaan, usia, jenis kelamin wanita, obesitas, faktor susunan tulang (Anatomi), kelemahan otot, dan cedera sendi akibat pekerjaan atau olahraga (Krishnan et al., 2018). Beberapa penyebab inilah yang mengaktifkan faktor peradangan yang akan menimbulkan kerusakan pada sendi (Sen et al., 2019) . Pada penelitian Sella tahun 2017 menunjukan tidak ada hubungan antara mandi malam dengan tingkat kejadian OA (Stella dkk., 2017). Selain OA, kerusakan sendi juga dapat disebabkan arthritis rheumatoid.

          Arthritis Rheumatoid (AR) adalah penyakit autoimun yang penyebabnya belum diketahui sampai sekarang (ACR, 1996). Penyakit ini cukup banyak diderita oleh penduduk Indonesia di saat usia yang masih produktif untuk berkerja. Pasien AR mengalami  kerusakan sendi bahkan bisa menimbulkan kecacatan sehingga akan berdampak pada sosial dan ekonomi (PRI, 2014). Hasil penelitian yang menganalisi  data-data dari National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) menunjukan bahwa usia lanjut, kebiasaan merokok, diabetes, obesitas, dan osteoporosis memiliki resiko yang lebih besar untuk menderita penyakit AR (Xu et al., 2017). Berdasarkan percakapan dokter dengan pasien pada netral news yang  mengungkpakan bahwa mandi malam hari tidak dapat menimbulkan AR akan tetapi jika penderita AR mandi malam hari menggunakan air dingin maka dapat memperburuk gejalanya.

          Gout merupakan penyakit yang banyak ditemukan pada laki-laki dan perempuan berusia diatas 75 tahun karena menumpuknya asam urat serum berlebihan > 6.8 mg/dl (Hiperurisemia) dalam waktu yang lama sehingga terjadi pengendapan kristal monosodium urat (MSU) di persendian (Doherty, 2009). Penumpukan MSU di persendian ini memicu reaksi peradangan oleh sistem kekebalan tubuh sehingga menimbulkan gejala pada  sendi yang terkena seperti kulit mengalami kemerahan, terasa hangat, bengkak dan nyeri. Gejala ini akan semakin bertambah buruk bahkan bisa menimbulkan kerusakan sendi permanen jika tidak diobati (PRI, 2018). Beberapa peneliti menemukan beberapa faktor resiko yang menyebabakan gout yaitu konsumsi alkohol, terlalu sering minum minuman bersoda, konsumsi jus buah yang tinggi fruktosa, sering memakan seafood, sering memakan apel dan jeruk, penggunaan obat diuretik seperti thiazide, penggunaan obat aspirin dosis rendah, dan menderita penyakit jantung, diabetes, hipertensi, obesitas, dan gangguan ginjal dalam waktu yang lama (Singh et al., 2011).

          Jadi dari beberapa fakta pada ilmu kesehatan tidak ada faktor resiko yang menyebutkan bahwa mandi malam dapat menimbulkan penyakit rematik sehingga dapat disimpulkan bahwa kepercayaan penduduk Indonesia mengenai penyakit rematik disebabkan mandi malam adalah  mitos belaka.




Daftar Pustaka
1.     Junaidi, (2006) Reumatik dan Asam Urat. BIP. Jakarta
2.     Muchid, dkk. (2006). Pharmaceutical care untuk pasien dengan penyait arthritis rematik. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Dinas Kesehatan.
3.     Arissa, M.I. (2013). Pola distribusi kasus osteoarthritis di RSU Dokter Soedarso Pontianak periode 1 Januari 2008 - 31 Desember 2009. Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura, 1(1), h.1–16.
4.     Hopman-Rock, Kraaimaat, M.F.W., & Bijlsma, J.W.J. (2013). Quality of life in elderly subjects with pain in the hip or knee. Quality of Life Research, 6(1), p.67–76.
5.     Sen R,  Hurley JA. (2019). Osteoarthritis. StarPearls Publishing.
6.     Sella AD, Sahrudin, Ibrahim K. (2017). Hubungan Intensitas Sholat, Aktivitas Olahraga, dan Riwayat Kebiasaan Mandi Malam dengan Riwayat Penyakit Osetoarthritis Pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Minaula Kota Kendari Tahun 2017. Juenal Ilmiah Kesehatan Masyarakat, Vol 2, No 6, h.1-9. 
7.     American College of Rheumatology Ad Hoc Commitie on Clinical Guidelines. (1996) Guidelines for the management of Rematoid arthritis. Arthritis Rheum; 39: 713 –31.
8.     Perhimpunan Reumatologi Indonesia. (2014). Diagnosis dan Pengolahan Arthritis Reumatoid, Jakarta.
9.     Xu B, Lin J. (2017). Characteristics and risk factors of rheumatoid arthritis in the United States: an NHANES analysis. Department of Rheumatology, p.1-17.
1. Doherty M. New insights into the epidemiology of gout. Rheumatology.2009; 48: ii2–ii8.
1. Perhimpunan Reumatologi Indonesia. (2018). Pedoaman Diagnosis dan Pengolahan Gout, Jakarta.
Sing AJ., et al. (2011) Risk Factors for Gout and Prevention: A Systematic Review of the Literature.

Post a Comment

0 Comments